PANDANGAN LESBUMI NU TERHADAP PETA JALAN PENDIDIKAN KEMENDIKBUD RI - BERITA LAMPUNG | SABURAI ONLINE

BERITA LAMPUNG | SABURAI ONLINE

Portal Berita Sai Bumi Ruwa Jurai

Breaking

Post Top Ad

Minggu, 24 Januari 2021

PANDANGAN LESBUMI NU TERHADAP PETA JALAN PENDIDIKAN KEMENDIKBUD RI

"Peta Jalan Pendidikan dalam pandangan K. Ng. H. Agus Sunyoto, M.Pd (Ketua Lesbumi PBNU)"

Peta Jalan Pendidikan (PJP) tahun 2020-2035 yang disusun pemerintah yang bertujuan menjawab tantangan pendidikan nasional dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan segala dampak yang mengikutinya, penting dikritisi sekaligus diberi masukan yang komprehensif agar tercapai tujuan sesuai yang diharapkan.

Pertama-tama, rancangan PJP masih belum dilengkapi kajian dari aspek Kebudayaan, terutama platform digital Pendidikan sebagai bagian dari transformasi Pendidikan yang ada dalam PJP belum mencerminkan keragaman kebutuhan di berbagai daerah di Indonesia yang merupakan negara kepulauan, bahkan cenderung menyeragamkan kebutuhan sebagai akibat konsep Pendidikan Persekolahan (Schooling System) warisan kolonial yang bersifat continental.

Konsep Pendidikan Nasional kita yang masih menganut Schooling System yang eksklusif dan jauh dari realitas kehidupan sehari-hari, yang memproses pengajaran peserta didik dalam kompartemen kelaskelas berjenjang yang tidak memberi peluang bagi perbedaan dan keragaman, sangat sulit untuk melahirkan lulusan-lulusan yang diharapkan beriman kepada Tuhan yang Mahaesa, bertaqwa, berakhlaq mulia, berbhinneka, bergotong-royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri.

Mendikbud Nadiem Makarim memang telah mengajukan gagasan Belajar Merdeka yang diilhami gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang Kemerdekaan dan Kemandirian, di mana peserta didik tidak harus mengikuti kurikulum sebaliknya bisa menggunakan metode belajar yang dianggap cocok. Guru-guru pun bebas memilih dengan cara apa dia mengajar. Guru-guru bebas memilih elemen-elemen dari kurikulum yang terbaik. Mahasiswa pun tidak harus mengikuti pembelajaran dengan materi yang disampaikan di dalam kampus tetapi bisa menentukan Pendidikan di luar kampus, industri, wirausaha, dan usaha lain. 

Gagasan cemerlang tentang Belajar Merdeka – yang terinspirasi Ki Hadjar Dewantara – tidaklah dapat diwujudkan dalam kenyataan selama konsep Pendidikan yang digunakan adalah Sistem Persekolahan. Sebab gagasan Belajar Merdeka dan Mandiri yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara bersama Dr Soetomo itu adalah Sistem Pendidikan Pesantren, sebagaimana kita kenal dalam Polemik Kebudayaan 1936. Itu berarti, gagasan Belajar Merdeka yang diusung Mendikbud tidak akan bisa diwujudkan selama sistem pembelajaran yang diterapkan di Indonesia adalah Schooling System. 

Sementara Pesantren sebagai Sistem Pendidikan adalah bagian integral dari elemen-elemen Kebudayaan Nusantara seperti Sistem Bahasa, Sistem Pengetahuan, Sistem Teknologi Peralatan, Sistem Kesenian, Sistem Hukum, Sistem Mata Pencaharian, Sistem Religi, Sistem Kekerabatan dan Organisasi Kemasyarakatan yang sudah berkembang ratusan tahun silam, yang berfungsi mengatur manusia Indonesia dalam bertindak dan berhubungan dengan sekitarnya. 

Oleh karena bagian dari elemen Kebudayaan Nasional, sekalipun dimarginalisasi selama seabad lebih oleh konsep Pendidikan Barat yang sangat hegemonik, Pesantren tetap mampu bertahan menjaga eksistensinya di tengah perubahan hingga perubahan di era Revolusi Industri 4.0 ini. 

Pesantren yang merupakan pengembangan sistem pendidikan kuno Dukuh dan Asrama, berkembang sesuai tuntutan perkembangan jaman dengan prinsip-prinsip Pendidikan Islam yang disebut Tarbiyyah wa Ta’lim, yaitu Ma’rifat (Kaweruh) dan aspek pengetahuan ‘Aql (Nalar) yang diselaraskan. 

Dengan Tarbiyyah, potensi intuisi manusia digali dan dikembangkan untuk Pendidikan Watak dan Kepribadian. Dengan Ta’lim, potensi intelek manusia dikembangkan untuk kecerdasan akal pikiran. Di dalam proses belajar mengajar di Pesantren, kemerdekaan dan kemandirian belajar menjadi bagian integral dari Pendidikan Islam. Santri sebagai peserta didik di Pesantren memiliki kebebasan untuk memilih mata pelajaran yang diinginkan termasuk memilih guru yang dikehendaki. Bahkan dalam pengembangan keilmuan, seorang santri diperbolehkan berbeda pendapat dan pandangan dengan guru pengajarnya. 

Lepas dari pandangan miring yang dialamatkan kepada Pesantren selama ini, memasukkan sebagian dari sistemnya sebagai bagian dari elemen budaya Nusantara ke dalam PJP bukanlah hal yang tertolak jika memang dibutuhkan dalam pengembangan Pendidikan Nasional menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0. Sebab diakui atau tidak, Pesantrenlah yang secara faktual telah terbukti berhasil mencetak lulusan-lulusan yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, berbhinneka secara nasional (ukhuwah wathoniyah) maupun global (ukhuwah insaniyyah), berjiwa gotong-royong, bernalar kritis, patriotis, dan mandiri. 



Post Bottom Ad